Diabetes Melitus (DM) adalah pandemi global non-infeksi yang memengaruhi jutaan orang, dan Epidemiologi Diabetes terus menunjukkan peningkatan prevalensi yang mengkhawatirkan. Selain komplikasi vaskular dan neuropati yang umum, DM juga erat kaitannya dengan kelainan hematologi, salah satunya adalah trombositosis, yaitu peningkatan jumlah trombosit yang tidak normal dalam darah.
Trombositosis pada penderita diabetes sebagian besar diklasifikasikan sebagai trombositosis reaktif (sekunder), yang merupakan respons tubuh terhadap kondisi inflamasi kronis. Hiperglikemia (gula darah tinggi) yang berkepanjangan memicu stres oksidatif dan peradangan tingkat rendah di seluruh tubuh. Respons inflamasi ini mendorong sumsum tulang untuk memproduksi lebih banyak trombosit.
Data Epidemiologi Diabetes dari berbagai studi menunjukkan korelasi antara kontrol glikemik yang buruk (ditandai dengan tingginya HbA1c) dan jumlah trombosit yang lebih tinggi. Kehadiran trombositosis pada pasien DM meningkatkan risiko vaskular yang sudah ada, karena trombosit yang berlebihan dapat memicu pembentukan bekuan darah (trombosis).
Trombositosis ini bukan sekadar peningkatan jumlah; ia juga melibatkan perubahan fungsional. Trombosit pada pasien diabetes seringkali lebih aktif dan “lengket” (hyper-reactive). Perubahan fungsi trombosit ini, ditambah dengan jumlah yang lebih banyak, menjelaskan mengapa pasien DM memiliki risiko tinggi mengalami serangan jantung, stroke, dan penyakit arteri perifer.
Epidemiologi Diabetes menunjukkan bahwa manajemen trombositosis pada pasien DM harus terintegrasi dengan pengobatan diabetes itu sendiri. Strategi utamanya adalah mencapai dan mempertahankan kontrol gula darah yang ketat, yang secara tidak langsung akan mengurangi tingkat inflamasi dan, akibatnya, menormalkan produksi trombosit.
Selain kontrol glikemik, terapi antiplatelet, seperti aspirin dosis rendah, sering direkomendasikan untuk pasien diabetes berisiko tinggi. Keputusan untuk Menggunakan Sensorik obat antiplatelet didasarkan pada penilaian risiko kardiovaskular individu, yang diperparah oleh adanya kelainan hematologi ini.
Perluasan Epidemiologi Diabetes kini mencakup pemahaman tentang mekanisme molekuler. Penelitian mengidentifikasi bahwa peningkatan sitokin pro-inflamasi, yang diproduksi sebagai respons terhadap hiperglikemia, bertindak sebagai sinyal kepada sumsum tulang untuk meningkatkan produksi megakariosit, sel induk trombosit.
